Home » » Asal-Usul Budaya Agama di Sunan Ampel Surabaya

Asal-Usul Budaya Agama di Sunan Ampel Surabaya

Written By setia darmawan on Wednesday, December 25, 2013 | 6:57:00 PM

BAB I
PENDAHULUAN
     1.     LATAR BELAKANG

Surabaya memiliki banyak tempat wisata religius dan salah satunya Makam Sunan Ampel Surabaya. Tempat religius merupakan tempat yang setiap hari diperuntukan sebagai tempat beribadah suatu agama, misalnya masjid. Masjid merupakan tempat ibadah bagi umat yang beragama islam.

Tidak semua masyarakat Surabaya mengetahui akan potensi tempat yang bersejarah. Kebanyakan dari masyarakat tersebut  memberlakukan tempat ibadah sebagai tempat untuk berdo’a saja. Namun tempat ibadah seperti halnya Masjid Sunan Ampel bukan hanya untuk tempat ibadah akan tetapi bisa dijadikan sebagai tempat wisata religius karena memiliki nilai sejarah yang dapat menjadikan sebagai media pembelajaran bagi generasi muda, sehingga dengan pembelajaran diharapkan dapat memotivasi bagi semua lapisan masyarakat terutamanya bagi kaum pemuda untuk ikut turut serta melestarikan tempat tersebut.

Wisata Religi Makam Sunan Ampel Surabaya sangat terkenal di berbagai daerah di Indonesia, khususnya pulau Jawa. Karena Sunan Ampel atau Raden Ahmad Rohmatulloh sangat terkenal ajarannya untuk menyebarkan agama Islam di pulau Jawa, bisa dikatakan berperan penting dalam penyebaran agama Islam di Jawa.

Masjid Ampel terletak di Jalan KH. Mas Mansyur di Desa Ampel (sekarang Kelurahan Ampel) Kecamatan Semampir, Surabaya (Jawa Timur). Sekitar dua kilometer ke arah Timur Jembatan Merah.

Makam Raden Muhammad Ali Rahmatullah atau lebih dikenal dengan sebutan Sunan Ampel, terletak di belakang mesjid. Untuk mencapai makam harus melewati sembilan gapura, sesuai arah mata angin, yang melambangkan wali songo atau sembilan wali. Tiga gapura merupakan bangunan asli peninggalan Sunan Ampel.

Raden Rahmat membangun langgar (mushola) sederhana di Kembang Kuning, delapan kilometer dari Ampel. Langgar ini kemudian menjadi besar, megah, dan bertahan sampai sekarang dan diberi nama Masjid Rahmat. Setibanya di Ampel, langkah pertama Raden Rahmat adalah membangun masjid sebagai pusat ibadah dan dakwah. Kemudian ia membangun pesantren, mengikuti model Maulana Malik Ibrahim di Gresik. Format pesantrennya mirip konsep biara yang sudah dikenal masyarakat Jawa. Raden Rahmat memang dikenal memiliki kepekaan adaptasi. Caranya menanamkan akidah dan syariat sangat memperhatikan kondisi masyarakat. Kata ”sholat” diganti dengan ”sembahyang” (asalnya: sembah dan hyang). Tempat ibadah tidak dinamai mushola, tapi ”langgar”, mirip kata sanggar. Penuntut ilmu disebut santri, berasal dari shastri orang yang tahu buku suci agama Hindu.

Ajarannya yang terkenal adalah falsafah ”Moh Limo”. Artinya: tidak melakukan lima hal tercela. Yakni moh main (tidak mau judi), moh ngombe (tidak mau mabuk), moh maling (tidak mau mencuri), moh madat (tidak mau mengisap candu), dan moh madon (tidak mau berzina). Falsafah ini sejalan dengan problem kemerosotan moral warga yang dikeluhkan Sri Kertawijaya. Sunan Ampel sangat memperhatikan kaderisasi. Buktinya, dari sekian putra dan santrinya, ada yang kemudian menjadi tokoh Islam terkemuka.

            Sebelum Sunan Ampel masuk kedalam kota Surabaya, agama yang dianut diwilayah Surabaya ini sangat banyak dan beragam, begitu juga dengan kebiasaan yang dilakukan warga Surabaya sebelum mengenal tata karma dan sopan santun terhadap sesama orang.

            Oleh karna itu latarbelakang kami ingin mengetahui asal-usul budaya agama yang terjadi ketika Raden Rahmad datang membawa ajaran Islam ke wilayah kota Surabaya khususnya di daerah Ampel.

2.     RUMUSAN MASALAH

Bagaimana dampak sosial budaya agama yang ada di kawasan wisata religi Sunan Ampel?

         3.     TUJUAN

Untuk mengetahui sosial budaya dan agama di Sunan Ampel dan memperkenalkan kepada semua lapisan masyarakat di Jawa Timur  bahwa tempat tersebut merupakan warisan budaya yang harus di lestarikan agar tidak terlupakan dan rusak karena perkembangan zaman.
        
        4.     TEKNIK PENGUMPULAN DATA

4.1 Hasil Observasi

Karakter Islam telah ditunjukkan oleh keberadaan masjidnya yang besar dan terus mengalami pemugaran. Hal ini mengingat lokasinya yang dekat dengan pasar dan juga sebagai tempat aktivitas Ziarah. Tampilan bangunan masjid tampak megah dilengkapi pula dengan menara. Rancangan arsitektur tradisional masih terlihat yaitu beratap tumpang tiga dan ruang utamanya berdenah bujur sangkar yang dilengkapi dengan sokoguru. Kekunoan yang masih tampak ada pada mimbarnya yang dihiasi dengan motif burung garuda. Motif yang lain terdapat pada plengkung mimbar dihiasi pula medallion dan daun-daunan serta matahari/sinar Majapahit”.

Menurut juru kunci Makam sunan ampel, struktur masjid ampel arsitekturnya lebih dominan mengikuti peninggalan hindu dan islam. Hal ini tidak terlepas dari cara mengajar Sunan Ampel yang selalu mengadopsi kegiatan agama hindu atau budha untuk menarik jamaahnya waktu itu. Masjid ini seperti halnya bangunan-bangunan Jawa kuno. Tiang-tiang masjid memiliki unsur arsitektur Belanda dan Cina. Masjid sering mengalami pemugaran mengingat usianya yang sudah tua, namun pemugaran itu tidak menghilangkan keaslian bangunan masjid.

4.2 Wawancara
Dengan metode wawancara, data di peroleh dari narasumber yang dapat dipercaya  dengan tempat sejarah yang  melalui paparannya dan sesi tanya jawab antara penanya dengan narasumber. Adapun nama narasumber yang saya maksud adalah HM Suryansyah juru kunci Masjid Sunan Ampel.

BAB II
PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
MAKNA 16 TIANG PENYANGGA MASJID
Masjid Sunan Ampel mempunyai tiang penyangga yang terbuat dari kayu jati . tinggi tiang tersebut 17 meter dan banyaknya 16 buah. Jumlah 16 tiang  tersebut mempunyai makna yakni 16 huruf dalam dalam kalimat syahadat, dan tiang tiang yang 17 meter mempunyai makna jumlah roka’at sholat fardhu dalam sehari semalam.
GAPURA DI SEKELILING MASJID
Ada lima gapura (pintu gerbang) yang terdapat di sekeliling masjid, yaitu :
  1. Dari arah selatan, tepatnya di Jalan Sasak terdapat pintu gerbang pertama yang bernama Gapuro Munggah. Gapura Munggah adalah simbol dari Rukun Islam yang kelima, yaitu Haji. di sekitar gapura ini banyak para pedagang yang menjajakan berbagai macam dagangan seperti, peci dan baju busana muslim.
  2. Gapura Poso (Puasa) yang terletak di sebelah selatan masjid. Gapura Poso memberikan suasana pada bulan Ramadhan. Setelah melewati Gapura Poso, kita akan masuk ke halaman masjid. Dari halaman ini tampak bangunan masjid yang megah dengan menara yang menjulang tinggi. Menara ini masih asli, sebagaimana dibangun oleh Sunan Ampel pada abad ke 14.
  3. Gapura Ngamal (Beramal). Gapura ini menyimbolkan Rukun Islam yang ketiga, yaitu zakat. Disini orang dapat bersodaqoh, dimana hasil shodaqoh yang diperoleh dipergunakan untuk perawatan dan biaya kebersihan masjid dan makam.
  4. Gapura Madep yang letaknya persis di sebelah barat bangunan induk masjid. Gapura ini menyimbolkan Rukun Islam yang kedua, yaitu sholat dengan mengadap (madep) ke arah kiblat.
  5. Gapuro Paneksen, merupakan simbol dari Rukun Islam yang pertama yaitu Syahadat. Paneksen berarti ‘kesaksian‘, yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Gapuro Paneksen merupakan pintu gerbang masuk ke makam.
Tulisan /  jurnal

Pada saat tiba di gerbang masuk wisata religi makam Sunan Ampel, kami sudah diperlihatkan dengan banyaknya pedagang yang berjualan disekitar jalan raya. Banyak juga ruko-ruko berjajar yang berjualan busana muslim, camilan dan ada juga ruko yang menawarkan tour wisata dll. Setelah memarkirkan kendaraan, kami bergegas menuju pintu masuk makam Sunan Ampel. Sepanjang jalan menuju masjid Sunan Ampel, banyak pedagang yang menjajakan makanan dan minuman. Ada pula baju muslim, parfum, air zam-zam, peci, dll. Kebanyakan pedagang adalah orang dari Madura dan Arab.

Para pengunjung di makam Sunan Ampel kebanyakan dari luar kota dan luar provinsi. Minoritas pengunjung adalah aliran NU, Muhammadiyah, LDII, banyak sekali berbagai aliran yang berkunjung di Makam Sunan Ampel ini menunjukkan bahwa meski berbeda tapi agam tetap satu yaitu Islam. Saat tiba di masjid Sunan Ampel, kami segera mengambil air wudhu untuk segera melaksanakan sholat Dzuhur. Karena kebetulan sampai disini waktu sholat Dzuhur. Setelah selasai sholat, kami bergegas menuju kawasan makam Sunan Ampel (Raden Ahmad Rohmatullah). Banyak peziarah yang membacakan do’a untuk Sunan Ampel. Mereka tidak hanya mendo’akan Sunan Ampel, tetapi juga mendo’akan para sahabat Sunan Ampel.

Di dalam masjid terdapat sumur yang kini sudah ditutup dengan besi. Banyak yang meyakini air dari sumur ini memiliki kelebihan seperti air zamzam di Mekkah, yakni tidak surut meski musim kemarau. Banyak masyarakat yang minum dan mengambil untuk kemudian dibawa pulang. Memasuki area pemakaman, terdapat gentong-gentong berisi air yang berasal dari sumur tersebut untuk diminum oleh para pengunjung. Menurut kepercayaan orang setempat, air tersebut membawa berkah dan dapat menyembuhkan berbagai penyakit dan membuat awet muda.

Gambar





Share this article :

1 comments:

Post a Comment

Ranting

Kunjungan dari

Pengunjung

Flag Counter

Google+ Followers

Followers

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Blog's Komunikasi Setia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger