Home » » Haruskah kita mencari malam lailatul Qodar

Haruskah kita mencari malam lailatul Qodar

Written By setia darmawan on Monday, June 17, 2013 | 3:43:00 PM

Haruskah kita mencari malam lailatul qodar




Lailatul Qadar merupakan hadiah Allah kepada kita. Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa melakukan qiyam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan pengharap-an, (maka) dosa-dosanya yang telah lalu diampuni." Juga doa yang diajarkan Rasulullah saw. saat menjumpai Lailatul Qadar adalah "Wahai Allah sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemberi Maaf, Engkau mencintai pemaafan karena itu berikanlah maaf kepadaku." (HR. Ibnu Majah)
Sehingga, dari kedua hadis tersebut menunjukkan bahwa dianjurkan bagi setiap yang menginginkan Lailatul Qadar agar menghidupkan malam itu dengan berbagai ibadah, seperti: shalat malam, tilawah al-Qur’an, dzikir, doa, dan amal-amal saleh lainnya. Dan orang yang menghidupkan malam itu dengan amal- amal ibadah akan merasakan ketenangan hati, kelapangan dada, dan kelezatan dalam ibadahnya itu karena semua itu dilakukan dengan penuh keimanan dan mengharapkan ridha Allah swt.
Jika kita ingin menggenggam Lailatul Qadar, dapatkah ia dilihat oleh mata?
Dua tokoh ulama’ Arab Saudi, Sheikh Abdul Aziz bin Baaz dan Sheikh Salleh Munajjid berkata: 
"Malam Qadar boleh dilihat dengan mata kepada siapa yang diberi taufik oleh Allah swt. dan dengan menggunakan tanda-tandanya. Para sahabat r.h. mencarinya berdasarkan tanda-tandanya, tetapi tiada laporan yang mengatakan mereka telah melihatnya. Akan tetapi tidak ada larangan mencari hasil fadilah bagi siapa yang beriman dan bersungguh-sungguh", kata beliau.

Sheikh Al-Sya’rawi menjelaskan, "Satu pun di antara makhluk Allah tidak melihat Lailatul Qadar, melainkan Rasu-lullah saw. Ini adalah satu keistimewaan yang diberikan kepada Rasul-Nya. Selain itu, ada beberapa orang yang dilaporkan pernah melihatnya. Mereka yang melihatnya berkata-kata kepada Rasulullah yang melihat beliau pandangan di dalam tidur mereka, seolah-olah berkata: "Aku melihat sebagaimana aku sujud di dalam air yang melimpah, kemudian menjadi pagi hari 23, mereka melihat masjid-masjid di sepanjang malam tersebut. Langit seolah-olah ingin hujan, Rasulullah sujud sehingga kelihatan dahi di atas tangannya dan kami mengetahui bahwa di sini adalah Lailatul Qadar di dalam tahun dan malam itu."


Sebenarnya, haruskah kita mencari Lailatul Qadar? Ada beberapa hadis yang menunjukkan betapa ruginya seseorang yang tidak pernah berusaha mencari Lailatul Qadar. Menurut Sheikh Abdul Aziz bin Baaz dan Sheikh Salleh Munajjid beliau berkata; "Seorang Islam haruslah mencari malam 10 terakhir Ramadhan sebagaimana Rasulullah saw. mengarahkan umatnya menuntut ganjaran dan pahala di mana seseorang yang mendirikannya dan iman dan azam malam tersebut, dia akan me-nerima ganjarannya dan jika tidak bahwa Rasulullah saw. telah bersabda: "Barangsiapa yang berqiam di malam Qadar dengan keimanannya, maka Allah akan mengampunkan dosanya yang
telah lalu". Dalam riwayat lain, "Barangsiapa yang berqiam dan mencarinya kemudian ia akan diampunkan dosa yang sebelumnya dan yang terakhir."

Sedangkan Imam Ja’far Shadiq mengatakan, "Amal saleh yang dilakukan pada malam itu (al-Qadr), dari shalat, sodaqoh, dan macam-macam amal kebaikan lainnya, lebih baik dari kita beramal selama seribu bulan dari amal yang kita kerjakan yang di dalamnya tidak ada Lailatul Qadr. Kalau Allah tidak melipatgandakan bagi orang-orang mu’min, maka tidak ada satu manu- siapun yang akan mencapai surga."

1000 bulan itu sama dengan 83 tahun, jadi orang yang shalat pada malam itu lebih baik daripada shalatnya orang selama 83 tahun. Di sini Imam a.s. dengan tegas mengatakan dan menunjukkan 1000 bukan menunjukkan bilangan yang banyak, tetapi amal baik apapun yang kita lakukan pada malam itu lebih baik daripada 83 tahun yang kita perbuat, lalu kalikan dengan 3. Apabila tidak dilipat gandakan, tidak akan pernah cukup ibadah kita untuk mencapai tingkatan surga, dan Allah yang Maha Pengasih menciptakan malam al Qadr untuk membantu hamba- Nya mencapai surga-Nya. Allahu Akbar!
Lalu bagaimana dengan orang-orang yang tidak mendapatkan Lailatul Qadr?

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan me¬masukkan kamu ke dalam surga-surga yang mengalir di bawah¬nya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mer¬eka, sambil mereka berkata, ’Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu’." (QS. at-Tahrim [66]: 8).

Dalam ayat di atas disebutkan bahwa terdapat orang- orang yang cahayanya tidak sempurna walau sudah beramal baik di dunia. Kenapa sampai tidak sempurna? Ini adalah salah satu dari orang-orang yang tidak beramal pada malam Qadr. Padahal yang kita diandalkan di mahsyar maupun barzah adalah cahaya tersebut, sedikit-banyaknya tergantung berapa banyak kita beramal di dunia.

Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib berkata, "Hari ini amal tanpa hisab, besok tinggal hisab tanpa amal." Jadi, kumpulkan cahaya itu sebanyak-banyaknya dari sekarang, janganlah sampai kita menjadi orang-orang yang belum sempurna cahayanya.

Amirul Mu’minin juga berkata, "Orang yang paling celaka adalah ketika bulan Ramadhan sudah berakhir namun masih ada dosa pada dirinya." Kenapa? Karena bulan ini adalah bulan peleburan, seharusnya dosa habis seluruhnya. Orang-orang yang bertobat pada malam Lailatul Qadr diumpamakan seperti seorang bayi yang baru keluar dari perut ibunya. Orang-orang yang celaka adalah orang-orang yang tidak memanfaatkan Lailatul Qadr. Karenanya marilah dari sekarang kita berusaha untuk mendapatkan Lailatul Qadr, janganlah kita menjadi salah satu dari orang-orang yang celaka tadi.

Kembali kepada hadis Imam Shadiq di atas, imam melanjutkan, "Bukan hanya saja Allah melipat gandakan kebaikan bagi orang-orang mu’min tetapi Allah akan menggantikan keburukan-keburukan yang ada pada mereka dengan kebaikan."

Jadi orang-orang yang mendapatkan Lailatul Qadr akan digantikan dosa-dosanya oleh Allah swt menjadi pahala. Bagaima¬na dengan yang berbuat ratusan dosa? Bukan hanya dosanya dihapus, tetapi digantikan dengan ratusan kebaikan. Mungkinkah ini? Ini adalah Karim Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Riwayat menyebutkan; Satu orang yang sudah putus asa dengan dosa-dosanya datang kepada Rasulullah saw. pada malam Qadr, "Ya Rasulullah, siapa yang akan menghakimi kita pada hari kia¬mat?" Rasulullah berkata, "Allah Yang Mahaperkasa dan Maha¬mulia." "Allah yang Karim itu?", tanya orang tersebut. "Ya", kata Rasulullah. "Kalau gitu aku selamat!", kata orang tersebut. "Kena¬pa engkau sebegitu yakin?", tanya Rasulullah. "Karena yang Karim itu pasti Memaafkan.", jawab orang tersebut. "Betul engkau", jawab nabi. Kenapa? Karena dia sungguh-sungguh di malam Qadr taubat dengan taubat yang semurni-murninya.

Imam Shadiq berkata kepada putra Abu Hamzah, "Wahai Ali sampaikan kepada ayahmu, di malam Qadr jika dia tidak bisa beribadah dengan duduk maka berbaring." Intinya adalah jangan sampai tidur pada malam Qadr, dikhawatirkan ketika maghfiroh Allah yang mutlak turun kita dalam keadaan tidur. Hadis Imam Shadiq as., "Apabila datang kepada kalian syahru Ramadhan maka bersungguh-sungguhlah menghadapinya, karena pada malam itu dibagikannya rizqi, dan dicatatnya ajal, dan dicatatnya menjadi tamu Allah di musim haji." Doa Imam Shadiq yang dibaca setiap setelah shalat: "Ya Allah sungguh aku
mohon kepada-Mu ketetapan yang Engkau tentukan dan tentukan secara bijak sebagai sesuatu yang tidak dapat diubah dan diganti oleh siapapun. Agar engkau catatkan dalam orang-orang yang berkesempatan menunaikan haji di Baitullah al Haram
Kenapa dalam doa di atas secara eksplisit menyebutkan permintaan untuk haji? Dari begitu banyaknya amal yang baik di sisi Alalh swt. mengapa dalam doa bulan Ramadhan selalu meminta haji? Hai ini berkaitan dengan sebuah tempat yang selalu didambakan oleh orang-orang haji yaitu Arafah. Rasulullah saw berkata mengenai keutamaan Arafah/’Di tempat itu, selama tidak minta maksiat minta apapun akari dikabulkan Allah." Jadi umat Islam diberikan kesempatan oleh Allah untuk meminta pengampunan di malam Lailatul Qadr dan di Arafah. Oleh ka¬rena itu orang-orang yang tidak berhasil mendapatkan Lailatul Qadr masih diberikan kesempatan oleh Allah swt. di Arafah. Karenanya mintalah untuk dapat berhaji dan mengunjungi Arafah. Semoga pengampunan Allah menjadi milik kita. Yaa Karim. Mengenai malam Lailatul Qadr sendiri, Imam Shadiq a.s. ber¬kata, "Malam 19 adalah lailatul taqdir, malam 21 lailatul ibrom (pembagian), malam 23 adalah lailatul imdho’ (ketetapan)." Jadi ada tiga malam penting Lailatul Qadr. Bagaimana kalau kita tidak mampu beribadah pada ketiga-tiganya? Satu orang datang kepada Imam Shadiq a.s., "Ya putra Rasulullah yang pasti kapan malam Qadr itu?" Imam menjawab, "Apa yang menjadikanmu berat untuk beribadah malam tersebut?". Imam mengatakan kepada kita, dengan segala rahmat dan maghfirah Allah yang disediakan untuk kita, apa yang membuat kita berat untuk beribadah pada tiga malam tersebut? Sementara kita tidak pernah berat untuk bermaksiat kepada Allah swt.


Share this article :

0 comments:

Post a Comment

Ranting

Kunjungan dari

Pengunjung

Flag Counter

Google+ Followers

Followers

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Blog's Komunikasi Setia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger